ITIL Service Design Overview

Leave a comment

Service Design in General

Service Design in ITIL is to design IT services, together with the governing IT Practices, processes, and policies to realize the service provider’s strategy and to facilitate the introduction of these services into supported environments, ensuring quality service delivery, customer satisfaction, and cost-effective service provision (ITIL Service Design book page 4)

Translate: Service Design ini ditujukan kepada Service Provider untuk memudahkan (service) strategy yang sudah dibuat agar dapat diaplikasikan kelingkungan yang sedang berjalan

Dibawah ini komparasi dari ITIL Service Lifecycle-nya dengan Cisco PPDIOO-nya

Cisco PPDIOO and ITIL

So…tujuan dari service design adalah:

  • Reduce TCO (total cost ownership) – well, klo bisa ini network dihandle orang lain (dan murah), kenapa mesti kita yang handle…
  • Quality of Service Improvement – berdasarkan trend sekarang, (contoh) customer pake jasa ISP lebih kearah gaming (strategy, demand management)…oleh karena itu mari kita rancang suatu produk/service untuk meningkatkan kenyamanan user dalam bermain
  • Consistency, whether new or ongoing service – self explanatory
  • Streamlined IT Process – ketika kita memasuki tahap design sebuah service…yang ditekankan memang processnya (how to-nya sedetail mungkin)
  • Improvement in IT Governance – design yang baik akan menghasilkan prosedur IT service yang ga bertele2, trouble ticket ga harus melewati 4-5 orang lagi…cukup maximal 2 step (contohnya)…trouble ticket langsung dikerjakan
  • Efficient Decision Making in ITSM – well, klo IT Governance bagus ya ITSM nya juga ikut kebawa bagus harusnya

Service Design in ITSM affect these guys:

  • People – of course, lol
  • Products – in ITIL this is called Service (mau bikin service apa?)
  • Processes – how this service works, in ITIL this is called SDP (Service Design Package)
  • Partners – siapa yang bantu kita untuk service ini jalan, the supplier of service

Dalam service design kita kenal namanya SDP alias define the process to make sure the strategy works, there’s 4 things for making SDP

  • Requirement – apa aja yang dibutuhkan untuk bikin design ini jadi nyata
  • Organizational Readiness Assessment – make sure we ready to deliver this service if it comes out
  • Service Lifecycle Plan – klo mau update gimana prosesnya…klo mau upgrade gimana planningnya…
  • And 5 aspect of Service Design – to make sure you make the right service

Which are…

  1. Service Solutions – lu mau bikin product/service apa? Hahaha…biasanya dilihat dari Service Portfolio di Service Strategy (service apa yang sudah ada, service apa yang belum ada, atau service apa yang harus di enhance)
  2. MIS (management information system) – gimana cara lu manage ini service solution? Termasuk service lifecycle-nya
  3. Technology Architecture – pake technology apa untuk service ini jalan? Dot1x? PKI/CA? atau Cuma pake port-security (missal klo lo jualan network security services)
  4. Process – ya pasti, make sure we have the capabilities to perform the process (lu jualan Cisco ISE yang support Radius CoA tapi switch lu cuma support dot1x-nya aja (ipbase IOS), kan kaga lucu)
  5. Measurement and Metric – well, to make sure we “hit” the target (read: agreed standard between you and customer), tentu harus ada pengukurnya…contohnya pake NetFlow (bener ga http trafficnya ke reduce pake QoS, contoh)

Ketika hal2 tersebut diatas sudah ada atau lengkap, sekarang saatnya “merancang” (design) service dari planning (strategy) yang sudah disepakati

And remember one of affected things in service design is Partner or Supplier, we need to manage those guys to in order our design plan looking good…in common words…Supplier Management

———————————–

Supplier Management

Supplier Management in ITIL is to ensure that suppliers and the services they provide are managed to support IT service targets and business expectations. Also, it obtains value for money from suppliers and contracts, while ensuring contracts with suppliers are aligned to business needs (ITIL Service Design book page 207)

Translate: memastikan bahwa partner (supplier) dan service yang mereka provide bisa dimanage demi kepentingan bisnis

What is supplier? Supplier in ITIL is 3rd party partner to help Us to deliver services…kek Cisco yang provide alat2 dan jasa untuk mengembangan Collaboration technology untuk perusahaan kita (Voice and Video over IP)

Management supplier ini juga mengatur bagaimana pengaturan tentang contract2 bisnis dengan supplier, sesuai ga harga dengan service yang mereka tawarkan

Contoh, Kita mau bikin service VoIP didalam perusahaan kita, kita minta bantuan supplier untuk pengadaan barang dan jasa…check if the price is right, check if the service offered by them is correct, and check if aligned with business needs (biasanya kan di Indonesia ga terlalu butuh2 banget Telepresence/Video Conference…tapi tetep aja disodorin ama mereka…dengan iming2 ini itu dan janji2 surga lainnya hahaha)

Supplier management ini harus ada MIS nya…yaitu SCMIS (Supplier and Contract Management Information System), yaitu management kontrak kerja dengan vendor

SCMIS ini nanti ada kaitannya ke SKMS (Service Knowledge Management System) di Service Transition phase, SKMS ini berkisar tentang configuration database dan teman2nya (we’ll talk later)

Biasanya klo uda ngomongin tentang supplier…berarti kita ngomongin kontrak kerja dengan mereka…apa aja sih yang penting untuk dibicarakan dalam hal kontrak ini?

  • Basic term and condition – biasalah…siapa yang handle kerjaannya dan berapa lama kontrak ini berlaku
  • Description and Scope – service apa yang ditawarkan kepada kita
  • Standards – kesepakatan dengan partner, contoh: vendor akan ngasi ip phone, ngerjain implementasinya, sama maintenance-nya…singkat kata…SLA (service level agreement)
  • Workload Range – simplenya…which service for which price
  • Management Information – data2 apa aja yang mereka kirim ke kita agar kita tahu service yang ditawarkan berjalan lancer, biasanya ini KPI (key performance indicator) atau CSF (critical success factor)
  • Responsibilities and Dependencies – taro orang dikantor (outsource), role-nya apa alias ngapain disana/kerjanya apa, trus sampe jam berapa

Nah, kita perlu tahu bahwa untuk 3rd party ini alias supplier harus kita kategorisasikan berdasarkan Value-and-Importance atau berdasarkan Risk-and-Impact

  • Strategic Supplier – critical, klo ga ada dia, service kita ga jalan (Cisco dengan IP Phone-nya, ga ada mereka…kita ga bisa nyediain service VoIP ke user…klo pengennya Cisco-atau kasarnya-Board of Director kita udah “kepegang” ama Cisco lol)
  • Tactical Supplier – Important, partner-nya Cisco yang kerja sama sama kita (Vendor/IT Solutions Company), klo ga ada ya bisa diganti vendor lain yang support Cisco juga
  • Operational Supplier – Common, contohnya supplier untuk software license, maintenance, dll
  • Commodity – not important, klo ga ada mereka…kita bisa handle sendiri, contoh kek install ulang…ga perlu pakek vendor lah beginian doang

Bisa ga 1 SI (sistem integrator) masuk ke semua tipe? Bisa…

Untuk menentukan supplier2 ini tentu kita harus mendefine new supplier (kita butuh service apa, vendor apa aja yang siap memenuhi kebutuhan kita), trus kita evaluasi itu supplier (contoh: track record dan service portfolio yang mereka tawarkan), setelah itu baru kita kategorisasikan itu supplier2…mana vendor yang penting ama yang engga, dan jangan lupa Supplier Contract Management juga harus dihandle (biasanya annual/per tahun), terakhir baru kita putusnya untuk renewal atau termination

Hal2 diatas itu penting untuk menentukan Service Level Management yang kita tawarkan ke customer/user

—————————————————————————

Service Level Management

Service Level Management in ITIL is to ensure that all current and planned IT Services are delivered to agreed achievable targets. This accomplished with a constant cycle of negotiating, agreeing, monitoring, and reviewing IT Service targets and achievements (ITIL Service Design book page 106)

Translate: Service level management itu berbicara tentang bagaimana memastikan bahwa service2 IT yang sedang berjalan (dan lagi dibahas/dirancang) itu sesuai dengan target yang kita mau

Caranya? Dengan selalu memonitor dan me-review target2 yang ingin dicapai oleh IT Service

Dengan begitu kita bisa merancang SIP (Service Improvement Plan), yaitu rencana FORMAL (ga cuma ngemeng doang, ada hitam diatas putih dan tgl berapa dilaksanakan) untuk membantu meningkatkan proses/kualitas service yang dikarenakan SLA yang tidak tercapai, weak system testing, tidak adanya training yang memadai, ataupun gara2 komplain dari customer/user…kadang SIP ini muncul klo suatu service gone wrong (bermasalah)

Kek kita butuh peningkatan bandwidth dari 512 kbps ke 1mbps misalnya, karena ada request untuk meningkatkan kualitas pelayanan IT ke customer yang kerjanya memang diarea video conferencing (contoh)

Requirement2 yang dibutuhkan berdasarkan objective bisnis dari customer inilah yang disebut SLR (Service Level Requirement)

SLR ini dipergunakan guna meningkatkan kualitas SLA dalam SIP, apa aja sih yang kita perlu tahu dalam SLA

  • Introduction – Service apa yang pengen di improve
  • Description – self explanatory
  • Mutual Responsibilities – gw sediain bandwidth, tapi modem lu yang pasang sendiri
  • Scope – improvement service…1 mbps yaks…dan ga ngebahas soal service software yaks…(pastikan nyambung dengan SIP)
  • Service Hours – self explanatory
  • Availability – siapa aja yang dapet ini service improvement
  • Customer Support Informationhow we contact the one who responsible for this improvement (pake trouble ticket dulu apa langsung aja)
  • Contacts and Escalation Policy – this is the one who responsible, nomor kontak orang nya…trus klo improvement ini bermasalah atau perlu diupgrade lagi, gw harus ngapain
  • Security – pastikan yang dapet service improvement ini datanya terjaga (well, ga Cuma ini aja sih…banyak contoh2 yg lain)
  • Cost and Charging Method – perlu ga kita kasi charge untuk service improvement ini, 512 kbps is free…tapi klo 1mbps, bayar

SLA ini pun dibagi menjadi 3 type…berdasarkan service catalog yang kita punya

  • Service-based SLA – 1 service for 1 thing only (service naikin bandwidth…ya bandwidth aja)
  • Customer-based SLA – multi service to 1 customer (naekin bandwidth, free modem, setting QoS gratis)
  • Multi-level SLA (ada 3 lagi)
    • Corporate level – general service issue, jam berapa karyawan ga bisa pake VoIP atau security policy in general
    • Customer level – (klo di HQ dapet SLA yang berbeda dari pada di branch, apalagi yang remote user…kek di amerika service ditawarkan dengan bahasa inggris, di Indonesia pake bahasa)
    • Service level – terdiri dari berbagai macam service ke multi customer

Supaya SLA ini bisa tercapai, maka kita harus memastikan team IT Support dan Supplier saling melengkapi agar SLA yang ada terpenuhi sesuai dengan target yang diminta customer (OLA – Organizational Level Agreement)

Nah, SLA yang kita tawarkan ke cutomer ini juga harus dimonitor, di ITIL namanya SLAM Chart (Service Level Agreement Monitor)

Contoh dari aplikasi yang kita bisa refer ke SLAM chart itu kek Solarwind network management tools atau software the DUDE (yg pake mikrotik pasti tau)…klo link-nya merah…tandanya bandwidth kepake banyak (full), kuning tandanya aga lumayan, klo ijo berarti sehat itu link

Nah, report dari monitoring itu bisa dipergunakan untuk improve service yang kita tawarkan, biasanya report ini dikasi ke level managemen per-annum (annual alias per-tahun, tergantung policy perusahaan)

Hasil2 result dari SLAM ini bisa membantu kita dalam management service catalogue (database service yang kita punya)….in ITIL called Service Catalogue Management

—————————————-

Service Catalogue Management

Apa yang terpikir ama lu dari gambar diatas? List dari produk minuman yang ditawarkan kan??

Di ITIL ini namanya Service Catalogue…list/database dari service2 apa aja yang kita tawarkan ke konsumen

Service Catalogue: “to provide and maintain a single source of consistent information on all operational services and those being prepared to be run operationally. To ensure that it is widely available to those who authorized to view it” (ITIL Service Design book page 97)

Translate: database dari service2 yang OPERASIONAL alias live IT Services (yang belum atau retired service, ga masuk) dalam 1 source…entah dalam bentuk file excel, sql, atau yang lain. Plus, ini database hanya available dan harus available ke orang yang terotorisasi

Service catalogue inilah yang akan ditampilkan ke konsumen (costumer facing), beda ama service portfolio (kita punya service apa aja…dari yang existing, retired, ataupun future service project)

Service2 yang termasuk dalam catalog harus mempunyai komponen2 berikut

  • Deliverables – pastilah…lu jualan servis tapi ga bisa ngasih servis itu, ga lucu kan…
  • Prices – biasanya ada price nya (walaupun kadang ditulis, negotiable, market price, atau by request…hahha)
  • Contacts – ini juga ga perlu dijelasin, lu mau servis ini harus ngomong ama siapa…ngomong ama hantu? Lu kira pesugihan?!?!
  • How to Order and request – self-explanatory

Karena service kita ada value dimata konsumen, berarti kita juga harus memaintain asset (remember, asset = anything that has a value)…di ITIL disebut Service Asset (dibahasnya di Service Operation)

In official…customer facing catalog biasa disebut Business Service Catalogue

Dan supaya IT support kita juga punya “list resmi” tentang apa aja yang bisa mereka lakukan untuk customer, kita juga harus punya Technical Service Catalogue

Untuk bisa Service2 catalogue ini bisa diakses secara benar, artinya kita juga harus tau cara memaintain Availability-nya…in ITIL this is called Availability Management

———————————————–

Availability Management

To ensure that the level of availability delivered in all IT Services meets the agreed availability needs and/or service level targets in a cost-effective and timely manner. This is both current and future needs of the business” (ITIL Service Design book page 125)

Translate: bagaimana caranya agar IT Service yang ditawarkan agar bisa perform sebagaimana mestinya dan harus ada ketika dibutuhkan, dalam kacamata biaya yang diperlukan dan waktu yang dibutuhkan

Biasanya vendor2 yang jualan Availability itu ngomongnya Five’s Nine guaranteed uptime (99.999%, alias 5 menit downtime per tahun, vendor Data Center network yang biasanya yang jualan begini)

Karena availability itu ngomongin tentang ketersediaan service…berarti klo tidak tersedia, apa yang kita harus lakukan

  • Reactive – instant feedback
  • Atau Proactive – pake planning, karena pake planning (dikira2 kenapa, bagaimana, simulasi apa saja yang bikin service down), berarti time-consuming

Yah, lu trade-off aja…mana yang kira2 bagus disituasi tertentu

Dari kacamata ITIL, uptime disebut MTBF (mean time between failures) alias…seberapa lama service ini bekerja sebelum down

Sedangkan downtime disebut MTRS (mean time to restore service) alias…seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk bikin service ini bekerja kembali

Downtime sendiri ada prosesnya:

  • Detection time – waktu yang dibutuhkan untuk mendeteksi adanya service yang down
  • Diagnosis time – waktu yang dibutuhkan untuk mencari penyebab service yang down
  • Repair time – waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan/menghilangkan penyebab service yang down
  • Restoration time – dan waktu yang dibutuhkan untuk membuat service ini aktif kembali

Nah, bisa jadi dalam suatu perusahaan ada beberapa service yang down…jeda waktu antar service down issue yang satu dengan yang lain disebut MTBSI (mean time between system incidents)

Mengenai incidents, dalam security ada 2 terminologi:

  • Event – yaitu suatu kejadian didalam service
  • Incident – yaitu event yang membuat suatu proses(di ITIL adalah service) terganggu

MTBF, MTRS, dan MTBSI ini dihandle oleh availability manager…siapa itu? Ya IT support…tugasnya kan supaya ensure IT service is running smoothly

Untuk merestore IT service (contohnya network) berarti kita harus punya yang namanya SKMS (service knowledge management system), atau CMDB (configuration management database), atau AMIS (availability management information system)

SKMS – CMDB – AMIS itu beda singkatan aja…intinya harus ada mekanisme untuk restore service

Contoh: sebelum Cisco, Juniper udah punya namanya restore configuration dengan sistem rollback…rollback ke date tanggal berapa, jadi engineer ketika ada yang salah konfig bisa restore ke earlier time tanpa harus nyari2 archive configuration…akhirnya Cisco dengan IOS XR-nya ngikut…inilah yang disebut CMDB

ya, Commit Confirmed

Availability alias ketersediaan service ini terkait dengan

  • Capacity management – klo storage atau bandwidth penuh…service di stop atau nambah lagi?
  • Information Security management – memastikan the right person is able to access the right file
  • Design Coordination management – baik service availability, security, dan capacity harus kita koordinasikan dengan pihak2 terkait

Nah, 3 hal ini ga dibahas di ITIL foundation

—————————————————-

Capacity Management *bonus*

Hahaha…tanggung lah….hajar bleh

To ensure that the capacity of IT Services and the IT infrastructure meets the agreed capacity and performance related requirements in cost-effective and timely manner. It meets both the current and future capacity and performance needs of the business” (ITIL Service Design page 158)

Translate: memastikan bahwa kapasitas IT baik dari segi infrastructure maupun service itu sendiri memenuhi permintaan

Contoh: paling gampang storage capacity atau bandwidth capacity…

Capacity itu sendiri apa sih? The maximum amount of delivery ability that an IT can produce

Objective dari capacity management adalah:

  • Produce and maintain appropriate/up-to-date plan
  • Assist with diagnosing and resolving performance/capacity issues
  • Ensure all performance achievement meets their target

Untuk itu kita perlu punya CMIS (Capacity Management information System)

Contohnya kek gini: (no commercial promotion intended, wkwkwk)

Trus bagaimana klo kita ga bisa afford untuk buy another storage and bandwidth? QoS config…alias tuning bandwidth ataupun storage (klo ini lebih kearah application sizing, hard disk partition)

Sub-process dari availability management ini ada 4 (ga gw bahas satu2):

  • Business Capacity Management – how we adjust capacity for business objective
  • Service Capacity Management – how to adjust capacity for operational services
  • Component Capacity Management – monitoring IT capacity and utilization
  • Capacity Management Reporting – ya reporting about capacity tentunya

Primary activities dalam Availability management ini adalah:

  1. Performance Monitoring
  2. Controlling Demand Management – hasil dari Demand Management (Service Strategy) akan dimasukan dalam planning Service Design
  3. Modeling and Tuning – QoS oriented
  4. Application Sizing – contohnya kek hard disk partition
  5. Capacity Planning

——————————————————————————-

Information Security Management

To align IT Security with business security and ensure that confidentiality, integrity, and availability of the organization’s assets, information, data, and IT services matches the agreed needs of the business” (ITIL Service Design page 197)

Translate: bagaimana caranya IT service security dengan CIA-nya (Confidentiality, Integrity, dan Availability) sudah sesuai belum dengan standard bisnis

Yang dibahas di IS management adalah:

  • Confidentiality – bagaimana caranya data ga bisa dibaca orang yang tidak berhak
  • Integrity – bagaimana caranya data ga bisa dirubah oleh orang yang tidak berhak
  • Availability – bagaimana caranya data ga bisa diakses oleh orang yang tidak berhak
  • Risk Management – finding things that could go wrong and how to stop it from becoming wrong
  • SMIS (Security Management Information System) – how to guide the development and management of your information security program
    • Procedural Security – how you secure things
    • Physical security – lock and keys anyone?!?
    • Organizational Security – general security
    • SMIS = Plan -> Implement -> Control -> Evaluate -> Maintain -> Plan again
  • Security Policy – aturan2 yang harus dipenuhi supaya security berjalan
  • Threat – ancaman IT terhadap organisasi
  • Vulnerability – celah2 yang bisa menjadi threat itu sendiri

Ga bahas 1-1…mending lu baca ISO 27001 deh…komplit pake telor

——————————————————–

Design Coordination

To provide and maintain a single point of coordination and control for all activities and processes within this stage of the service lifecycle” (ITIL Service Design page 86)

Translate: untuk menyediakan dan maintain seluruh aktivitas dan proses dalam 1 koordinasi

Yang termasuk dalam Design Coordination adalah:

  • IT Service Continuity Management – gimana caranya service ini bisa jalan lagi klo ada hambatan, simplenya…Disaster Recovery Plan yang tentunya sesuai dengan BIA
  • BIA (Business Impact Analysis) – klo kenapa2…opsi apa yang kita punya untuk recovery
    • Immediate – fitur2 kek hot swap atau hot standby (FHRP kek HSRP dan teman2nya)
    • Fast – kek R-PVST dalam switch
    • Intermediate – warm standby…biasanya 1-2 hari downtime (ganti module infrastructure biasanya)
    • Gradual – cold standby …ganti infrastructure itu sendiri biasanya…

Yang termasuk Gradual biasanya yang “we can survive without having that technology/service”, karena klo yg ga bisa survive…masuknya ke immediate atau fast

————————————–

References

ITIL Service Design book

http://www.routerfreak.com/managing-a-large-network/

Cbt Nugget ITIL Foundation video by Chris Ward

Nanda Noviza Rachman as my ITIL mentor

ITIL Service Strategy Overview

Leave a comment

Service Strategy in General

The purpose of service strategy is to define the perspective, position, plans, and patterns that a service provider needs to be able to execute in order to meet an organization’s business
outcomes
(Service Strategy book page 4)

Translate: maksud dari service strategy adalah untuk melihat perspektif/sudut pandang, posisi, rencana kedepan, dan pola yang IT Service Provider harus jalankan agar menyokong bisnis yang organisasi kerjakan

Singkat kata, bagaimana IT Service bisa menyokong bisnis perusahaan secara strategis

Nah, fase pertama dalam IT Service di ITIL itu ngomongin tentang service strategy…apa sih yang dimaksud strategy itu?

Strategy according to ITIL is a complex set of planning activities in which an organization seeks to move from one situation to another in response to a number of internal and external variables
(Service Strategy book page 35)

Translate: strategi adalah kumpulan aktifitas yang dirancang didalam organisasi agar bisa pindah dari 1 situasi ke situasi lain (ke yang lebih baik tentunya) karena factor internal atau external

Case: bill PSTN bengkak nih klo mau nelpon kecabang (variable)…kita harus move-on ke VoIP sekarang, wokeh…apa aja yang harus kita lakukan…what strategy should we plan…assessment of current equipment? Call Vendor? Or what else?

According to Henry Mintzberg, a Professor of Management Studies at McGill University, Strategy can be split into 5P’s:

  • Perspective – Visi kedepannya mau gimana?
  • Position – Posisi kita di market itu ada di daerah mana? Niche Player? Visionaries? Challengers? Atau Leader? Or do you ever heard about SWOT…?

    Case: klo kita mau jualan (atau mau beli Firewall)


    Tahun 2014, untuk Firewall, Fortinet dengan Fortigate-nya termasuk leader…sekarang Check Point, now its decision time…lu mau jualan Firewall merk apa? (Cisco dari tahun ke tahun kaga pernah sukses di Leader…selalu jadi Challenger, kurang kali ‘dana’ R&D department nya hahaha)

  • Plan – ya Planning, rencananya mau ngapain setelah tau visi dan misi serta posisi kita di market
  • Pattern – kondisi dan objectives yang harus dipenuhi agar planningnya berhasil
  • *Ploy – untuk ITIL ini ga terlalu dipusingin, singkat kata…ploy itu buy all the things that competitor cant buy anymore (lu jualan nasi goreng…biar pada ke elu semua, itu beras lu ambilin sampe2 orang laen ga bisa bikin nasi goreng…wkwk


Nah, supaya kita bisa merancang service yang baik dan menghasilkan suatu value untuk organisasi/company maka perlu diperhatikan 2 hal berikut

Utility: Ability to provide service…fit for purpose, menaikkan performa IT secara khusus atau organisasi secara keseluruhan, menaikkan performa bisa juga dengan cara menghilangkan constraints (penghalang/pembatas kek removing RIP for OSPF for faster convergence, ga hanya menaikkan dalam arti harfiah kek naekin bandwidth) yang ada

Warranty: How well the service can be delivered…fit for use, inti dari Warranty adalah Ketersediaan service (Availability) plus Kesinambungan service (Continuity) plus kapasitas yang service tawarkan (Capacity) dan juga Keamanan yang ditawarkan (Security)

Rumusnya kira2 kek gini: Service Value = Utility + Warrant…dimana Warranty = Availability + Continuity + Capacity + Security

Dalam ITIL Foundation Service Strategy ada 4(5) dibahas:

  • Service Packages
  • Service Portfolio Management
  • Financial Management
  • Business Relationship Management
  • *Demand Management (di exam ini kaga dibahas)

Now lets start into first sub-chapter…Service Packages

———————————————————————-

Service Packages

A service package contains two or more services that have been combined to offer a solution to a specific type of customer need or to underpin specific business outcomes

Translate: Inti dari Service Packages adalah untuk Enabling and Enhancing Service

Case: gw punya file di File Server…gw ijinkan temen gw untuk akses itu file (Enabling him to access my files) tapi gw setting supaya file itu ga bisa modify (Enhancing file by added security)..itu Service Package yang gw “tawar”kan ke temen gw

But how we provide which file opened by who…thats the reason for us to create SLP (Service Level Packages)

misalkan dia dijamin bisa create file dan modify tapi ga bisa delete itu file (Feature of the Services) trus dia bisa akses service ini (create file and modify it) pada saat2 tertentu aja, contohnya tiap hari Jumat aja (Support of the Services)

Nah…SLP ini dibagi menjadi beberapa type:

  • Availability Level: user A bisa akses File X, user B ga bisa
  • Continuity Level: apakah file ini bisa diakses all-the-time atau tidak
  • Capacity Level: dapet berapa MB kapasitas storage untuk nyimpen itu file
  • Security Level: read…write…update…delete…modify the file…tiap orang bisa beda2

SLP Type inilah yang dikaitkan dengan Warranty, sedangan Feature and Support of Services inilah yang dikaitkan dengan Utility

Dari sini kita bisa ambil assessment…Service Packages yang kita punya apa aja untuk Customer, mana yang patut dipertahankan, mana yang perlu ditingkatkan, dan mana yang harus ditinggalkan (Service Asset)

Untuk itu kita perlu management dan database dari setiap service yang ditawarkan…which is in Service Portfolio Management in Service Strategy sub-chapter

——————————————

Service Portfolio Management

The complete set of services that is managed by a service provider. The service portfolio is used to manage the entire lifecycle of all services, and includes three categories: service pipeline (proposed or in development), service catalogue (live or available for deployment), and retired services.

Translate: intinya adalah bagaimana IT Service Provider agar bisa membuat/mempunyai beragam service yang dibutuhkan oleh customer (at an appropriate level of investment alias sesuai dengan kantong customer tentunya)

Yang jadi pertanyaan adalah Service Portfolio itu apa? Database…a complete set of services (baik yang lagi active maupun yang non-aktif), jadi  IT Service yang lu tawarkan itu ada apa aja ?

Contoh: Perusahaan saya bisa develop aplikasi, trus bisa tuning database, trus bisa develop network infrastructure…tapi yang terakhir by request aja…yang official ya yang 2 pertama tadi (develop aplikasi dan tuning database)

Contoh diatas itulah Service Portfolio…the Official Service alias Service yang “dijual” (di publikasi) secara resmi inilah yang disebut Service Catalog

Masi bingung?? Look at this picture

Inilah Menu Catalog…alias makanan apa aja yang ditawarkan oleh resto ini ke customer….in ITIL this is called Service Catalog, tapi itu resto punya menu lain kan?? pasti punya…tapi pasti ada assessment nya…mana yang laku..mana yang engga (jadi ada beberapa makanan/service yang di retired)

Nah, dari Service Portfolio ini kita perlu strategy untuk meningkatkan bisnis kita…mana yang perlu dibuang….mana yang perlu “bangkitin” lagi trus ditaro di service catalog…atau kita perlu INVEST di sector mana nih demi meningkatkan service value kita dimata customer

Invest? Then we talk about Service Investment…artinya kita harus menganalisa organisasi kita ini “lagi diarah mana”

  • Run the business…alias masi mempertahankan Core Services kita (biasanya yang organisasi/company kecil…boro2 ngelebarin sayap…usaha inti nya aja megap2)
  • Grow the Business…Daerah/Market mana yang belum kita jamah (tentunya yang kira2 bakal berprospek kedepannya dong, mang lu doang PDKT ama cewe trus di “prospek” hahaha)
  • Transform the Business…pemain besar…dana banyak…terjun ke bisnis baru, lebih tinggi resiko

Service yang akan dimunculkan kedepannya dan akan jadi salah satu service yang kita “jual” itu disebut Service Pipeline

Nah…talk about Service Investment…there is a Lifecycle about Service Investment like this picture

Define – service apa yang mau kita tambah/update

Analyze – is it good enough for us? Maybe we should look at Supply’n’Demand analysis for service value

Approve – make sure you have enough money for enabling those services hahaha

Charter – sign legal document, stakeholder sign, etc.

And because it involve money…sure enough we have to manage our financial

————————————–

Financial Management

Its all about budget though…because Financial Management is how to balance the Cost of Service and the Quality of Service

Whether for Pipeline Service Budgeting or Current Service Budgeting…

And because we WILL spend money on developing a new service/maintaining current one, there must be IT Accounting

IT accounting: the process that responsible for identifying the actual cost of delivering IT service (service valuation) compared with budgeted cost and managing variance

Translate: “lu orang mau gonta-ganti server pakek alesan storage capacity full lah, kek banyak duit aja lu…lu kira duit punya nenek moyang lu

Hahahaha…intinya adalah it focus on where we spend the money…and what service that costs more money than other

Or…to maintain safe financial record, we can deploy some charge back a.k.a “this service is not free…pay for use…”

——————————————–

Business Relationship Management

In Service Strategy we also talk about healthy relationship between provider and customer (sebagus apapun service yang lu tawarkan klo konsumen ogah…selese…titik)

BRM (Business Relationship Management): to establish and maintain a business relationship between the service provider and the customer based on understanding the customer and their business needs (Service Strategy book page 256)

Translate: BRM memastikan bahwa service provider bisa bereaksi positif terhadap keinginan konsumen

Karena bisnis tiap saat bisa berganti atau berubah and we need to ensure BRM ini bisa ga mendeliver service ke konsumen sesuai dengan ekspektasi mereka before agreeing to deliver the service

What that BRM maintain:

  • Positive Relationship…pastilah, but how??
    • A Good Service Catalog…which lead us to SLA (service level agreement) in Service Design (later I’ll talk about this)
  • Customer Satisfaction…IT Service has a goal, what goal?? That Customer recommend our service to another (potential) customer

BRM ini terbagi menjadi 3 tipe:

  • Type 1: Internal Service Provider (IT Support report to IT Manager)
  • Type 2: Shared Service Provider (IT Support to both IT Manager and another staff)
  • Type 3: External Service Provider (Vendor…)

BRM ini mengandalkan 2 tools untuk menunjang service yang dia berikan:

  • Customer Portfolio: database contains information of customer (inc. potential one)
  • Customer Agreement Portfolio: Current contract of service to customer

BRM ini mirip kek Sales yah?? Indeed…BRM Activities include Marketing, Selling, and Delivering services to customer

In order to work properly with customer…they rely on Service Portfolio to handle customer demands

——————————————————-

Demand Management

Bonus…hahaha

Demand management berfungsi untuk menyesuaikan supply dengan demand dari konsumen dan mencoba memprediksi potensi2 dari product yang ditawarkan (atau yang akan ditawarkan)

Service Operation (later…there’s 1 specific topic about this) is impossible without demand, karena supply ga bisa di simpen sambil nunggu order

Klo lo bikin service VoIP tapi kaga ada yang mau beli itu service…tanda nya lu salah strategi hahaha (atau kelewat retard…*damn*)

Demand management ini sangat berpengaruh kepada Production Capacity because the resources are based upon patterns and forecast of demands

Pattern dari demand2 ini disebut Pattern of Business Activity (PBA)

To be able to “predict” PBA…we must now these things:

  • Service Packages
  • SLP
  • Core Service Packages – service that shared by 2 SLP (contohnya: File Print or Email)
  • Line of Service – a core service or supporting service yang punya banyak SLP…biasanya dimanage oleh Product Manager

Core Service deliver basic result to the customer. They correspond to the ‘value’ that Customers require and expect, and that they are willing to pay for.

——————

Reference:

ITIL Service Strategy book

Cbt Nugget ITIL Foundation video by Chris Ward

http://www.itilnews.com/What_is_Demand_Management_from_an_ITIL_perspective.html

Older Entries