Setelah kemarin kita membahas tentang bagian dari Dynamic Routing protocol, yaitu Distance Vector Protocol

Sekarang akan kita membahas tentang Link-State Protocol


Seperti yang kita ketahui…protocol2 yang termasuk link-state adalah OSPF dan IS-IS (yang terakhir dibahas di CCNP)

OSPF = Open Shortest Path First

IS-IS = Intermediate System to Intermediate System

Algoritma untuk menentukan rute yang ditempuh oleh link state router adalah algoritma Dijkstra

Bisa dilihat diatas…kalau R2 ingin kirim paket ke R3…dia bisa lewat R1 atau R5…tapi klo lewat R5 berarti = R5+R4+R3 = 10+10+10 = 30, lebih besar costnya daripada lewat R1

Klo diliat2…”Shortest Path First“…koq lebih mengarah ke OSPF Protocol yah !?! emang…hahaha


How Link-State Protocol Works

  1. Each router learns about its own links, its own directly connected networks. This is done by detecting that an interface is in the up state.

  2. Each router harus kirim hello ke neighbors on directly connected networks. Similar to EIGRP.

  3. Each router membuat Link-State Packet (LSP) yang berisi informasi tentang each of directly connected link. Informasinya adalah: neighbor ID, link type, and bandwidth.

  4. Each router mengirimkan (flooding) LSP to all neighbors, who then store all LSPs received in a database. Neighbors then flood the LSPs to their neighbors until all routers in the area have received the LSPs. Each router stores a copy of each LSP received from its neighbors in a local database.

  5. Each router uses the database to construct a complete map of the topology and computes the best path to each destination network. Jadi setiap router tau klo mo jalan ke router tertentu bisa lewat mana, cost nya berapa, interface/media nya apa

Note: Remember that LSPs do not need to be sent periodically. An LSP only needs to be sent:

  • During initial startup of the router or of the routing protocol process on that router
  • Whenever there is a change in the topology, including a link going down or coming up, or a neighbor adjacency being established or broken



Disadvantages of Link-State Routing Protocol and how to “tackle” it

As far as you know…static routing is most time-consumed one to configure, but take far less memory and cpu utilization, and then Distance Vector such as RIP take the second plase after static routing. Link-state is most fastest one to configure and convergence, but take alot of memory and cpu utilization (just take alook of OSPF…each router has its own TOPOLOGY DATABASE, not just ip route only)

Waw…..just take a look at My English words… hahaha

Ganti lagi pake bahasa indonesia…

Modern link-state routing protocols are designed to minimize the effects on memory, CPU, and bandwidth. The use and configuration of multiple areas can reduce the size of the link-state databases. Multiple areas can also limit the amount of link-state information flooding in a routing domain and send LSPs only to those routers that need them. (koq bahasa inggris lagi gw ??)

Bayangkan kalau 1 router ada link baru…dan dia harus meng-advertise ke router lain…dan router lain harus meng-advertise ke router2 yang lainnya lagi…3-4 router sih gpp…klo 20 router lebih ??? makan bandwidth itu mah

Nah..di link state itu ada namanya Area, gunanya adalah jika ada update…hanya di area itu saja…yang lain tidak ikut terkena updatenya

Contoh: salah satu router di area 51 ada link yang putus, otomatis dia akan mengadvertise ke router2 yang ada di area 51, diarea yang lain tidak akan terupdate

Trus ada pertanyaan…klo area yang laen tidak terupdate…berarti ga bisa kirim2an paket donk ???

Jawabannya adalah…antara area yang satu dengan yang lain pasti ada router yang menghubungkan…betul kan????

Nah..area yang lain hanya perlu tahu…untuk kirim paket ke router di area 51, cukup kirim ke router yang menjadi gerbang ke area 51 aja…jadi mereka ga perlu tahu apa yang terjadi di area 51 (“bodo amat”) hahaha

MIRIP kek VLAN di switch, memisahkan broadcast di satu switch

Router yang menjadi penghubung area satu dengan yang lain disebut ABR (area boundary router)

Yang jadi masalah adalah…ketika router yang menjadi gerbang ke area lain ini down…hahahaha (solusinya adalah dengan redudansi alias ada link lain ke area itu…atau dengan VRRP, GLBB, atau HSRP*…apaan lagi nih???)

HSRP, VRRP, dan GLBB adalah suatu metode menjadikan 2 router (physical) menjadi 1 (logical) router


  • Port di router itu sedikit…dengan menggabungkannya kita bisa seakan2 menambah portnya
  • Router2 yang terhubung dengan ABR yang menggunakan VRRP/HSRP/GLBB tidak akan melakukan LSA Flooding lagi, karena jika 1 link ke ABR mati, mereka tidak akan “sadar” kalau itu mati, karena masih ada router yang lain

HSRP = Hot Standby Routing Protocol (Cisco Propiertary)

VRRP = Virtual Redudancy Routing Protocol (not Cisco, but based on HSRP)…does not support IPv6

GLBP = Gateway Load Balancing Protocol (Cisco Propiertary and offer Load Balancing…more advanced than HSRP)